Selasa, 05 Juli 2011

MENEMBUS BELANTARA HALIMUN



Ajakan buat ngegas ke Halimun sudah sering disampaikan Pak Asep (Pak Ape) setiap kali bertemu selesai Jumatan, maupun di Facebook. Tapi karena jadwal pekerjaan yg tidak menentu, jadilah ajakan itu ditelan saja dengan pahit. Rabu malam kembali Pak Ape menulis comment di FB ku mengenai rencana ke Halimun minggu ini, jujur saja ajakan ini membuat pikiran jadi tidak tenang, heheheeee…

Si Batman yang menjadi tunggangan ku baru saja sembuh dari rawat inap di bengkel akibat blok mesinnya pecah dihantam rantai. Kontan saja semua mesin diturunkan untuk memperbaikinya. Shock depan yg masih standard pun mulai terasa lemah ayunannya, sehingga harus ditukar oli dalamnya. Namun niat ke Halimun tetap bermain-main dalam otak ini.
Setelah loby-loby manis dengan istri, akhirnya ijin ngegas ke Halimun keluar juga, dengan syarat berangkatnya harus sabtu pagi. Makasih ya istriku sayang!!!

Brangkaaaaaaatttttt !!!

Rombongan pertama yg berjumlah 8 motor dipimpin Pak Ape telah terlebih dahulu berangkat dari Kota Bogor melalui Parakan Salak pada Jumat malam. Kemudian menuju Pamengpeuk dan bermalam disana dengan tujuan agar bisa berangkat lebih pagi dan jalurnya pun masih belum ada yang melewati.

Sabtu Pagi aku dan Pak Helmi berjanji bertemu di bengkel Axxa dan lanjut menuju Bubulak. Aku bergabung dengan rombongan kedua yang dipimpin oleh Abeng. Disana sudah menunggu Pak Budi dan Om Agung. Setelah berembuk kami pun memutuskan untuk melalui rute Luwiliang dan melewati Perkebunan Teh Cianten. Disana kami sempatkan sejenak mengisi perut dan membeli nasi bungkus bekal makan siang kami di dalam hutan nanti.Warung nasi yang kami singgahi ini ternyata dipenuhi oleh stiker club sepeda dan club motor yang sebelumnya pernah singgah kesana. Pedagangnya yang super ramah itu pun mengenakan jersey salah satu club motor trail asal Jakarta.

Pukul 10 kami sudah tiba di Pamengpeuk sebagai pintu masuk menuju hutan. Disini ternyata sudah menunggu Pak Teten, Pak Tri dan Pak Iwan. Jadilah rombongan kami genap 8 motor. Untuk berjaga-jaga kami pun mengisi bahan bakar hingga penuh disini. Sudah bisa dipastikan, didalam hutan tidak ada yang menjual bensin. Kalaupun ada, harga per liter nya sudah 7ribu. Jangan harap akan ada Pertamax ya…

Single trek di pintu hutannya kami tempuh dengan lahap. Ini juga sebagai pelampiasan dari jalanan aspal yg panjang dan membosankan dari Bubulak ke Pamengpeuk. Jalur masuk hutan yang sedikit lembab namun tak terlalu licin memacu teman-teman buka gas poll. Yah, sembari pemanasan dan goyang pinggang.Jejak ban pacul rombongan pertama pun masih terlihat jelas di beberapa ruas jalur.Ketika melewati sebuah sungai kecil, air sungai tersebut seperti di belokkan ke jalur turunan yg akan dilewati. Entah itu disengaja atau tidak, sebaiknya memang harus lebih berhati-hati. Kubangan lumpur di penghujung aliran air tadi ternyata membuat mesin motor terendam lumpur. Mulailah aksi tarik menarik, dorong mendorong yang melibatkan salah seorang warga Ciptagelar sebagai helper agar kami dapat segera menyelesaikan jalur ini.
Si Batman yg menggunakan ban 18-21” dengan lancar melewati tantangan ini.




Gas pun kembali diputar, kaki pun semakin sering turun untuk menahan motor agar tetap seimbang. Jalur berikutnya sudah mulai banyak cerukan jejak roda motor atau yg lebih dikenal dengan jalur Tamiya. Ban motor harus masuk ke dalam cerukan itu agar tidak tergelincir. Penyeimbangnya adalah dengan kaki yg menapak ke tanah.Beberapa tanjakan berhasil dilewati dan cuaca pun semakin terang, sehingga jalur tanah jadi lebih kering.Motor Pak Iwan yg sejak awal berada di depan-bahkan sampai akhir pun semakin di depan- terpaksa harus di tuntun melewati jembatan kayu yg miring. Tak ada jalur lain untuk sampai ke seberangnya.
Abeng yang berdiri di kayu untuk menahan motor tiba-tiba tercebur ke dalam genangan air kayu yang di injak patah. Membuat kami yang menyaksikannya tertawa, terutama Pak Helmi. Disinilah kekejaman pertemanan di dalam dunia trail adventure, teman yang jatuh atau nyebur justru jadi lelucon dan di foto, bukannya di tolong. Namun disinilah seni dan candu yg membuat orang ketagihan mencoba trail adventure.

Tanjakan panjang setelah jembatan ‘Abeng’ terlihat jelas di depan mata. Pak Iwan mulai berteriak memanggil si akang helper untuk menarik ban depan motornya agar naik ditanjakan ini. Semua kembali bahu membahu mengerahkan tenaga.Waktu menunjukkan pukul 11.40 dan matahari siang sudah tampak di atas kepala. Rasa haus dan lapar mulai terasa. Namun kami memutuskan untuk menunda istirahat makan siang.“ini tanjakannya gak panjang kok, kita lanjutin aja dulu” ujar salah seorang rekan.Ternyata oh ternyata tanjakan itu lumayan panjang dan benar-benar Tamiya satu jalur. Seperti berada dalam terowongan, jalur ban motor kami harus mengikuti jalur ban motor sebelumnya karena tak ada pilihan lain. Si akang helper turun naik membantu satu per satu motor kami, kedua kaki pun harus turun ke tanah sembari mendorong stang motor ke depan. Tekhnik seperti ini haruslah di kuasai oleh para offroader roda dua, dan sangat dipastikan akan menguras fisik dan tenaga.Satu jam kemudian sampailah di sebuah sungai yg lebarnya sekitar 5 meter tempat kita memutuskan untuk makan siang. Sangat di sarankan untuk selalu berhenti makan di dekat aliran air supaya persediaan air tetap terjaga di dalam backpack. Setelah perut cukup terisi, perjalanan pun kembali dilanjutkan.




Jalur Tamiya nan menanjak lebih sering di temukan. Namun karena tenaga sudah kembali pulih, kami dapat melaluinya dengan lancar. Matahari sudah tidak terlihat lagi. Pohon-pohon yg ada di kiri kanan jalur tertutup lumut, kabut pun mulai datang. Halimun mulai menampakkan keberadaannya. Pukul 4 sore hujan mulai turun, hawa dingin pun mulai terasa. Masing-masing mengeluarkan jas hujan, namun ada beberapa dari kami yg tetap menikmati rintik hujan Gunung Halimun tanpa jas hujan.Jika hujan turun, maka tubuh kita tidak terlalu dehidrasi. Tapiiiiiiiiiiiiii…… trek yg dilalui semakin mantaaapppp!!!
Ban belakang semakin di gas malah semakin dalam galiannya. Kaki pun sering terpeleset karena trek semakin licin. Kaki akan lebih sering turun untuk membantu keseimbangan dan mendorong motor kedepan. Konsentrasi & kewaspadaan bertambah ketika melalui trek di tepi lembah.

Tanpa disadari kaki kiriku ternyata nginjak angin dan motor sudah miring ke kiri. Alhasil si Batman harus tiduran dulu di lereng jalur. Sementara yang lain masih jauh di belakang. Yang aku dengar hanya suara raungan knalpot saja. Mau tidak mau aku mengangkat si Batman sendirian. Ban diatas, body motor di bawah, dan posisinya berada di lereng pula. Tenaga Hulk kembali keluar…. Sukses !!!




Hujan telah berhenti, namun menyisakan jalur yg semakin licin dan berair. Kondisi ini semakin membuat tenaga terkuras habis. Kedua kaki Pak Tri mulai kram, motornya di jokiin ke helper yang kini sudah bertambah menjadi 3 orang. Mereka ibarat malaikat penolong dalam hutan.
“saya sudah 3 bulan gak naik motor ke hutan, jadinya berasa banget fisik yg nge drop” ujar Pak Tri. Ada satu tanjakan panjang lagi yang menanti kami didepan. Sang helper memberi julukan ‘tanjakan k*nt*l’. Rasa penasaran yang timbul membuat kami bertanya-tanya, namun mereka hanya tertawa kecil saja sambil menghabiskan buah kurma pemberianku.
Satu persatu motor harus ditarik menggunakan webbing. Motor Pak Helmi yang menggunakan ban M****s 110/100-18  lumayan lancar di tanjakan sebelumnya, namun di tanjakan ‘k*nt*l’ ini tak berdaya dan ditarik juga.

Hari mulai gelap. Lampu motor mulai dinyalakan. Kewaspadaan semakin ditingkatkan. Pak Budi dan Pak Tri memilih jalan kaki menyusuri trek. Namun sesekali tetap saja terpeleset karena pijakan yg sangat licin. Salah ambil jalur dan salah pijakan bisa berakibat jatuh lagi. Kondisi fisik kami sudah sangat menurun. Hanya sedikit sisa tenaga untuk menahan motor masing-masing agar tidak jatuh. Sehingga jika ada motor di depan jatuh, harapan bantuan hanya bertumpu pada helper saja. Motor di belakang hanya berhenti dan memberi penerangan sambil mamberi semangat. Heheheheeee…maaf ya pren….

Dari kejauhan terlihat kerlip lampu rumah penduduk. Sudah dipastikan tidak lama lagi akan sampai di tujuan, yaitu rumah Abah Anom. Motor Pak Teten yg sudah gelap tanpa penerangan terpaksa di terangi si Batman dari belakang.

Sebelum masuk ke jalanan kampung, kami kembali dihadang oleh sebuah tanjakan dekat saung. Pak Teten yg motornya tergolong minimalis dibanding yang lain ternyata kesulitan untuk naik. Helper dipanggil  kembali. Bukan untuk mendorong, melainkan untuk mencari kayu penyangga, dan motornya pun ditinggal.
Si Batman kembali meraung di awal tanjakan. Ban belakang tak maju sedikit pun. Aku harus turun dan mendorong motor sambil memutar gas. Perlahan akhirnya naik juga, meski ban belakang tetap mental ke kiri dan kenan seperti kuda jingkrak sedang beraksi.

Alhamdulillah, pukul 7.30 malam si Batman telah parkir dengan manis di depan Imah Gede Kasepuhan Ciptagelar. Tepat disisi rumah Abah Anom. Imah Gede yg berarti rumah besar memang diperuntukkan bagi para tamu yg datang berkunjung ke Ciptagelar. Pak Ape menyambutku dengan segelas kopi panas. Sembari bersalaman dia berucap “selamat bro… sekarang gak hanya cerita aja. Tapi dah menempuh jalur Halimun langsung”.

Malam yang dingin di kaki gunung halimun. Rasa pegal-pegal pun tak mungkin di dustai. Namun obrolan malam di depan Imah Gede seputar perjalanan tadi siang membuat kami larut. Satu persatu hilang menuju peraduannya, tubuh memang butuh istirahat.

Pukul 8.10 pagi, suara obrolan dicampur tawa teman-teman membangunkanku dari tidur yang pulas. Setelah merapikan barang2, kami pun menyapa Abah Ugi yang saat ini menjadi Abah Anom Kasepuhan Ciptagelar. Makan pagi sudah terhidang lengkap di meja. Informasi dari Pak Ape kalau mau datang dan menginap disana sebaiknya konfirmasi dulu lewat telpon biar begitu sampai disana sudah tersedia makan malam.




Kemajuan teknologi sudah merambah kawasan ini. Meski hanya operator XL dan Telkomsel saja. Listrik pun sudah ada, sehingga tamu yang tak bisa jauh dari gadget bisa mencharge battery sepuasnya.Pukul 10.00 pagi kami pun berpamitan untuk meninggalkan Ciptagelar. Kali ini kami menyusuri jalanan berbatu yg sangat licin. Apabila salah injak rem dan salah pilih jalur, ban motor bisa slip. Rute berikutnya adalah Pelabuhan Ratu yang harus ditempuh sekitar 28 km melalui kampung Ciptarasa yang masih kental dengan ke’Sunda’annya.

Prolog
Ini adalah perjalanan trek panjang yang ke dua bagiku. Sebelumnya aku pernah menjelajahi jalur Ranca Buaya, Cianjur Selatan dengan start dari Ciwidey di tempuh hingga tengah malam juga.
Banyak yang bilang “jangan ngaku doyan main trail klo belom nyobain ke ranca buaya”.
Kedua jalur ini sama tipikalnya, menembus pegunungan dan hutan belantara. Namun sayangnya hampir di sepanjang jalur Ranca Buaya sudah hancur dengan cerukan Tamiya yg cukup dalam. Sehingga ban 18-21” pun tak berdaya.
Bagiku, trek Halimun yg berjarak sekitar 18 km masih lebih enak ditempuh dan masih bisa buka gas polll…. Perjalanan kali ini memang benar-benar puas dan mengasyikkan.
Terima kasih banyak buat teman-teman seperjalanan. 


Terima kasih juga untuk si Batman yang sehat wal afiat selama perjalanan. Suatu saat kita kembali lagi ke Halimun ya…!!!




nb: beberapa foto lagi ada di  http://www.facebook.com/media/set/?set=a.2254294882040.2133253.1388355181&ref=notif&notif_t=photo_album_comment

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar